TEORI BELAJAR J. S. BRUNER

 

PEMBAHASAN

A.    Biografi Jerome S. Bruner

Bruner memiliki nama lengkap Jerome Seymour Bruner. Bruner lahir pada tanggal 1 Oktober 1915, seorang ahli psikologi dari Universitas Harvard,  Amerika Serikat.

B.   Teori Belajar Menurut Jerome S. Bruner

Jerome S. Bruner (1960) seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi belajar kognitif. Bruner tidak mengembangkan suatu teori belajar yang sistematis, yang penting baginya ialah cara-cara bagaimana orang memilih, mempertahankan, dan mentransformasi informasi secara efektif, inilah menurut Bruner inti dari belajar.

Yang menjadikan dasar ide Jerome S. Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperanan secara aktif di dalam belajar di kelas. Untuk itu, Bruner memakai cara dengan apa yang disebutnya “discovery learning”, yaitu di mana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir. Prosedur ini berbeda dengan reception learning atau expository learning, di mana guru menerangkan semua informasi dan murid harus mempelajari semua bahan atau informasi itu.

Menurut Bruner (1960) dalam proses belajar dapat dibedakan pada tiga fase, yaitu:

  1. Informasi, dalam tiap pelajaran kita peroleh sejumlah informasi, ada yang menambah pengetahuan yang telah kita miliki, ada yang memperhalus dan memperdalamnya, ada pula informasi yang bertentangan dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya.
  2. Transformasi, informasi itu harus dianalisis, diubah atau ditransformasi ke dalam bentuk yang lebih abstrak, atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas dalam hal ini bantuan guru sangat diperlukan.
  3. Evaluasi, kemudian kita nilai hingga manakah pengetahuan yang kita peroleh dan transformasi itu dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain.

Bruner mengatakan bahwa belajar tidak untuk mengubah tingkah laku seseorang tetapi untuk mengubah kurikulum sekolah menjadi sedemikian rupa sehingga siswa dapat belajar lebih banyak dan mudah.

Oleh karena itu, Bruner mempunyai pendapat bahwa alangkah baiknya bila sekolah dapat menyediakan kesempatan bagi siswa untuk maju dengan cepat sesuai dengan kemampuan siswa dalam mata pelajaran tertentu. Di dalam proses belajar Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap siswa, dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan.

Selanjutnya Bruner (1960) mengemukakan empat tema pendidikan yang perlu diperhatikan, yaitu:

  1. Mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan
  2. Kesiapan (readiness) siswa untuk belajar
  3. Menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan
  4. Motivasi atau keinginan untuk belajar siswa

The act of discovery dari Bruner:

  1. Adanya suatu kenaikan di dalam potensi intelektual.
  2. Ganjaran intrinsik lebih ditekankan dari pada ekstrinsik.
  3. Murid yang mempelajari bagaimana menemukan berarti murid itu menguasai metode discovery learning.
  4. Murid lebih senang mengingat-ingat informasi.

Menurut Bruner, dengan menerapkan cara belajar discovery learning akan memberikan tiga manfaat besar bagi si pembelajar atau siswa, yaitu:

  1. Pengetahuan yang diperoleh akan dapat bertahan lama dan lebih mudah diingat dibandingkan cara belajar mendengarkan ceramah.
  2. Hasil belajar yang didapat mempunyai efek transfer yang lebih baik dari hasil belajar yang lain.
  3. Dengan belajar menggunakan metode discovery learning, nalar si pembelajar akan aktif bekerja dan memiliki peningkatan. Karena si pembelajar dituntut untuk berfikir secara bebas. 

Dalam belajar guru perlu memperhatikan 4 hal berikut ini:

  1. Mengusahakan agar setiap siswa berpartisipasi aktif, minatnya perlu ditingkatkan, kemudian perlu dibimbing untuk mencapai tujuan tertentu.
  2. Menganalisis struktur materi yang akan diajarkan, dan juga perlu disajikan secara sederhana sehingga mudah dimengerti oleh siswa.
  3. Menganalisis sequence. Guru mengajar, berarti membimbing siswa melalui urutan pernyataan-pernyataan dari suatu masalah, sehingga siswa memperoleh pengertian dan dapat mentransfer apa yang sedang dipelajari.
  4. Memberi reinforcement dan umpan balik (feed back). Penguatan yang optimal terjadi pada waktu siswa mengetahui bahwa ia menemukan jawabnya.[1]

Bruner menyebutkan hendaknya guru harus memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientist, historin, atau ahli matematika. Biarkanlah murid-murid menemukan arti bagi diri mereka sendiri, dan memungkinkan mereka untuk mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang dimengerti mereka.


[1] Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm. 12.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s