akhlak madzmumah “KUFUR”

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

Berbagai dalil dari al-Quran dan hadits menunjukkan bahwa iman itu tidak sah dan tidak diterima kecuali diiringi dengan dua hal: keduanya adalah; pasrah kepada Allah dengan bertauhid, dan berlepas diri dari berbagai bentuk kekufuran dan kesyirikan.

Keduanya adalah makna syahadat. Tidak ada seorang pun yang bisa waspada dan menghindar dari sesuatu yang buruk kecuali sesudah mengetahui. Berdasarkan hal tersebut, maka kita bisa mengetahui pentingnya mempelajari tauhid untuk diamalkan serta pentingnya mengetahui kekufuran dan kesyirikan agar bisa mewaspadai dan menjauhinya.

B.     Rumusan masalah

Untuk mempermudah pembahasan dalam makalah ini dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1)      Apa yang dimaksud dengan kufur?

2)      Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kufur?

3)      Apa macam-macam kufur?

4)      Bagaimana sikap orang islam terhadap orang kafir?

 

BAB II

PEMBAHASAN

1.      Pengertian Kufur

Kufur menurut bahasa artinya tidak percaya, menutup[1], ingkar. Sedangkan menurut istilah kufur adalah mengingkari adanya Allah SWT dan segala ajaran-Nya yang disampaikan oleh nabi/rasul-Nya. Orang yang berlaku ingkar disebut kafir, kata jamaknya kafirin atau kuffar. Orang kafir adalah kebalikan dari orang beriman[2].

Firman Allah dalam surah Al-Anfal ayat 55:

Artinya: “Sesungguhnya mahluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka tidak beriman.” (QS. Al-Anfal: 55)

Surah Al-Baniyyah ayat 6:

Artinya: “ sungguh, orang-orang kafir dari golongan ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka jahanam , mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)

Orang-orang kafir dijuluki sebagai makhluk yang paling buruk. Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang kafir. Orang-orang kafir diberi petunjuk atau dipimpin oleh setan., sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam firrmannya sebagai berikut:

Artinya: “Sungguh, Allah tidak member petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3)

Artinya: “Sesungguhnya kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-Araf: 27)

2.      Faktor-faktor yang Menyebabkan Kufur

Ada beberapa faktor yang menyebabkan orang menjadi kufur[3], antara lain:

1. Kepercayaan terhadap Allah yang sudah ada, tidak dikembangkan.

Menurut ahli ilmu jiwa, pada jiwa seseorang terdapat enam rasa yaitu: rasa intelek, rasa susila, rasa seni rasa hargadiri, rasa agama dan rasa social. Rasa-rasa tersebut akan berkembang jika sering dibina. Misalnya: rasa intelek, jika tidak dilatih dengan belajar maka orang tidak akan pandai. Begitu juga dengan rasa agama, jika dikembangkan dengan baik maka orang akan mengamati dan mengamalkan ajaran-ajaran agamanya. Sebaliknya apabila tidak pernah dikembangkan maka lambat laun orang akan melupakan agamanya.

2. Tidak mengakui kebenaran karena suatu hal.

Pada masa-masa awal rasulullah menyiarkan agama islam banyak sekali orang yang tidak mau percaya akan adanya Allah dan Rasul-Nya . mereka tidak mau percaya karena menganggap kewibawaan mereka sebagai pemuka masyarakat dan bangsawan

Akan jatuh jiika menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Mereka itu diantaranya adalalh Abu Jahal yang sangat menentang dan memusuhi Nabi. Juga paman Nabi, yaitu Abu Thalib yang banyak membantu Nabi dalam menyiarkan  agama Allah sampai akhir kenyataan tetap dalam keadaan kufur.

3. Adanya keraguan dalam pikiran.

Keraguan seorang terhadap adanya Allah dapat menyebabkan ia menjadi kufur. Misalnya dalam pikirannya terlintas bahwa Allah itu ada karena sesuatu yang sudah ada.

4. Karena pengaruh lingkungan.

Lingkungan besar seklai pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Di suatu daeerah yang masyarakatnya taat ibadah kepada Allah, pada umumnya anak-anak yang tinggal di daerah tersebut berperangai (berakhlak) baik. Sebaliknya di daerah yang penduduknya tidak taat beragama, maka pengaruh-pengaruh buruk, seperti perjudian minum-minuman keras, pelacuran mudah masuk di daerah itu. Begitu juga pengaruh bujukan orang-orang kafir agar mau mengikuti agama mereka mudah diterima. Apalagi jika orang-orang kafir agar mau diterima . apalagi jika orang-orang kafir itu membujuknya dengan harta dan janji-janji yang manis-manis biasanya orang mudah terpengaruh. Dalam hal ini Nabi bersabda yang artinya sebagai berikut:

“ Setiap anak dilahirkan atas fitrahnya, maka orang tuanya yang menjadikan dirinya beragama yahudi atau nasrani atau majusi.”

 3.      Macam-macam Kufur

Kufur ada beberapa macam, antara lain[4]:

  1. Kufur zindik, yaitu tidak mengakui kebenaran ajaran islam tetapi berpura-pura sebagai pemeluk agama islam dengan tujuan dapat menghancurkan islam dari dalam.
  2. Kufur inadi, yaitu meyakini adanya Allah dengan hati dan ucapan, tetapi tidak patuh kepada hokum-hukum Allah.
  3. Kufur mu’aththil (Atheis), yaitu tidak percaya akan adanya tuhan.
  4. Kufur nikmat yaitu tidak bersukur atas nikmat yang diberikan Allah.
  5. Kufur juhud, yaitu mengingkari kebenaran agama Allah.

Di antara kufur di atas yang banyak terjadi dikalangan orang islam sendiri adalah kufur nikmat[5]. Orang sering mengingkari nikmat atau kesenangan yang diberikan Allah. Orang sering menyangka bahwa nikmat kesenangan atau keberuntungan yang mereka peroleh adalah semta-mata. Karena jerih payah mereka sendiri.

Allah sangat murka kepada orang-orang yang mengingkari nikmat-Nya sebagai mana dia sebutkan dalam surat Ibrahim ayat 7:

Artinya: “ Sesungguhnya jika kamu bersukur, niscahya aku akan menambah (nikmat) kepadamu tetapi jika kamu mengingkari (nikmatku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

4.      Sikap Orang-orang Islam terhadap Orang-orang Kafir

Ajaran islam memberikan petunjuk bagaimana cara bersikap terhadap orang kafir[6]:

1. Bersikap baik dan adil selama mereka tidak mengganggu, tidak menunjukan sikap dan perbuatan jahat terhadap orang Islam. Firman Allah dalam surat Al-Muntahanah ayat 8 yang artinya sebagai berikut:

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agam dan tidak mengusir kamu dari kampong halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Muntahanah:8)

2. Bersikap keras, tegas, berjihad dan menyatakan perang, jika mereka mengganggu ketentraman umat islam. Sesuai dengan firman Allah yang artinya:

“Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang seama mereka.” (QS. Al-Fath: 29).

3. Tidak menjadikan orang kafir sebagai teman akrab melebihi keakraban teman sesama orang yang beriman. Karena orang-orang kafir selalu berupaya untuk mencelakakan orang-orang yang beriman. Firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan teman orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kecurangan. Sungguh, telah nyyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi dihati mereka lebih jahat. Sungguh, telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (kami), jika kamu mengerti.” (QS. Ali Imran:118).

4. Tidak menjadikan orang kafir sebagai pemimpin di antara orang-orang yang beriman mengenai hal tersebut Allah menjelaskan dalam surat Ali Imran ayat 28 yang artinya sebagai berikut:

“Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barang siapa berbuat demikian niscahya dia tidak akan memperoleh apapun dari Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa-Nya), dan hanya kepada Allah tempat kembali.” (QS. Ali Imran: 28)


[1] Anwar. Rosihan. Akhlak Tasawuf. (Bandung, Pustaka Setia. 2010), hlm.125

[2] Syamsuri. Pendidikan Agama Islam untuk SMA Kelas XI. (Jakarta, Erlangga, 2007), hlm.130

 

[3] Masan. AF.  Akidah Akhlak Madrasah Tsanawiah Kelas VII. (Semarang, Karya Toha Putra. 2009), hlm.130

 

[6] Masan. AF.  Akidah Akhlak Madrasah Tsanawiah Kelas VII. (Semarang, Karya Toha Putra. 2009), hlm.132

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s