ISSU-ISSU PENDIDIKAN ISLAM DI MADRASAH

A.    Pengertian Madrasah

Kata madrasah dalam bahasa Arab berarti tempat atau wahana untuk mengenyam proses pembelajaran. Dalam bahasa Indonesia madrasah disebut dengan sekolah yang berarti bangunan atau lembaga untuk belajar dan memberi pengajaran.

Menurut SKB (Surat Keputusan Bersama) 3 Menteri, yang dimaksud dengan madrasah ialah lembaga pendidikan yang menjadikan mata pelajaran agama Islam sebagai mata pelajaran yang diberikan sekurang-kurangnya 30%, disamping mata pelajaran umum.

B.      Sistem Pendidikan dan Pengajaran Di Madrasah

Sistem pengajaran yang digunakan di madrasah adalah perpaduan antara sistem pada pondok pesantren dengan sistem yang berlaku di sekolah-sekolah modern. Penilaian untuk kenaikan tingkat ditentukan dengan penguasaan terhadap sejumlah bidang pengajaran tertentu.

Pada perkembangan selanjutnya sistem pondok mulai ditinggal, dan berdirilah madrasah-madrasah yang mengikuti sistem yang sama dengan sekolah-sekolah modern. Namun demikian pada tahap awal madrasah tersebut masih bersifat diniyah, di mana mata pelajaran hanya agama dengan penggunaan kitab-kitab bahasa arab.

Sebagai pengaruh dari ide-ide pembaharuan yang berkembang di dunia Islam dan kebangkitan bangsa Indonesia, sedikit demi sedikit pelajaran umum masuk ke dalam kurikulum madrasah. Buku-buku pelajaran agama mulai disusun khusus sesuai dengan tingkatan madrasah, sebagai halnya buku-buku pengetahuan umum yang belaku di sekolah-sekolah umum. Bahkan kemudian timbulah madrasah-madrasah yang mengikuti sistem perjenjangan dalam bentuk sekolah-sekolah modern, seperti Madrasah Ibtidaiyah untuk tingkat dasar, Madrasah Tsanawiyah untuk tingkat menengah pertama, dan adapula Kuliah Muallimin (pendidikan guru) yang disebut normal Islam.

Pada tahap selanjutnya penyesuaian tersebut semakin meningkat dan terpadu dengan baik sehingga sukar untuk dipisahkan dan dibedakan antara keduanya, kecuali madrasah yang langsung ditulis predikat Islamiyah. Kurikulum madrasah atau sekolah-sekolah agama, mempertahankan agama sebagai mata pelajaran pokok, walaupun dengan persentase yang berbeda. Pada waktu pemerintahan RI dalam hal ini oleh Kementerian Agama mulai mengadakan pembinaan dan pengembangan terhadap sistem pendidikan madrasah. Melalui Kementerian Agama, madrasah perlu menentukan kriteria madrasah. Kriteria yang ditetapkan oleh Menteri Agama untuk madrasah-madrasah yang berada di dalam wewenangnya adalah harus memberikan pelajaran agama sebagai mata pelajaran pokok, paling sedikit enam jam seminggu.

Pengetahuan umum yang diajarkan di madrasah adalah:

  1. Membaca dan menulis (huruf latin), bahasa Indonesia
  2. Berhitung
  3. Ilmu bumi
  4. Sejarah Indonesia dan dunia
  5. Olah raga dan kesehatan

Selain mata pelajaran agama dan bahasa Arab serta yang disebutkan diatas, juga diajarkan berbagai keterampilan sebagai bekal para lulusannya terjun ke masyarakat.

C.    Model Pembelajaran di madrasah

Menurut Muniruddin Ahmed, ada tiga metode pendidikan yang dikembangkan di madrasah pada masa pendidikan Islam klasik, yaitu; al-samā’, al-imlā’, dan al-ijāzah.

  1. al-samā’ adalah mendengar, tetapi dalam konteks pendidikan istilah ini berimplikasi lebih luas. Pada prakteknya, dalam metode al-samā’ ini dikenal tiga macam cara, yaitu (1) pengajaran secara langsung, di mana seorang guru membacakan sendiri pelajarannya dari hafalannya di hadapan para pelajar; (2) pelajar membacakan langsung pelajaran dari buku pengajar atau salinannya ataupun dari hasil hafalannya. Cara ini sama dengan model presentasi; dan (3) mendengarkan pelajaran yang disampaikan seorang pelajar kepada pengajar.
  2. al-imlā’ (dikte). Metode ini selalu digunakan pada hampir setiap institusi pendidikan Islam klasik. Biasanya para pengajar mendiktekan pelajaran dari buku, namun tidak jarang pula dari mereka yang langsung mendiktekan dari hafalannya.
  3. al-ijāzah, yaitu seorang pengajar memberikan lisensi mengajar kepada seseorang peserta didik atas nama pengajar tersebut. Metode ini secara spesifik berlaku pada pengajaran hadis.

Model pembelajaran yang digunakan di Madrasah saat ini sama dengan model pembelajaran di sekolah umum.

D.    Kultur Pengembangan Madrasah

Pada hakikatnya madrasah merupakan salah satu alat dan sumber pendidikan serta pencerdasan rakyat kalangan bawah yang sudah berurat berakar pada masyarakat indonesia umumnya, hendaklah mendapat perhatian dan bantuan yang nyatatanpa tuntunan dan bantuan materil dari pemerintah.

Agar madrasah mendapat bantuan materil dan bimbingan dari pemerintah Menteri Agama Nomor 1 tahun 1952. Menurut ketentuan ini, yang dinamakan madrasah ialah “tempat pendidikan yang telah diatur sebagai sekolah dan memuat pendidikan dan ilmu pengetahuan agama islam menjadi pokok pengajaran.”

Berdasarkan ketentuan tersebut jenjang pendidikan pada madrasah tersusun sebagai berikut:

  1. Madrasah Rendah atau sekarang lazim dikenal sebagai Madrasah Ibtidaiah, ialah madrasah yang memuat pendidikan dan ilmu pengetahuan agama islam menjadi pokok pengajarannya, lama pendidikan 6 tahun
  2. Madrasah lanjutan tingkat pertama atau sekarang dikenal sebagai madrasah Tsanawiyah ialah madrasah yang menerima murid tamatan Madrasah Ibtidaiah atau sederajat, serta memberi pendidikan didalam ilmu pengetahan agama islam sebagai pokok, lama pendidikannya 3 tahun.
  3. Madrasah Lanjutan Atas atau sekarang dikenal sebagai Madrasah Aliyah, ialah madrasah yang menerima murid-murid tamatan madrasah lanjutan pertama atau yang sederajat memberi pendidikan dalam ilmu pengetahuan agama islam sebagai pokok lama belajar 3 tahun.

E.     Output/Outcome Madrasah

Dengan diperlakukannya kurikulum standar yang menjdi acuan, maka berarti telah terjadi keseragaman madrasah dalam bidang studi agama, baik kualitas maupun kuantitasnya, kemudian adanya pengakuan persamaan yang sepenuhnya antara madrasah dengan sekolah-sekolah umum yang setaraf, serta madrasah akan mampu berperan sebagai lembaga pendidikan yang memenuhi dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan mampu berpacu dengan sekolah-sekolah umum dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

SKB 3 Menteri  menetapkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Ijazah madrasah mempunyai nilai yang sama dengan nilai ijazah sekolah umum yang setingkat.
  2. Lulusan madrasah dapat melanjutkan ke sekolah umum yang setingkat lebih atas.
  3. Siswa madrasah dapat pindah kesekolah umum yang setingkat.

DAFTAR PUSTAKA

Enung K Rukiati.2006. Sejarah Pendidikan Islam diIindonesia. Bandung: Pustaka setia

Hasbullah. 2001. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

http://www.masbied.com/2009/10/30/madrasah-sebagai-lembaga-pendidikan-islam/

 

http://imamsolo.blogspot.com/2008/11/madrasah-dan-pesantren-sebagai.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s